Mangkunegara dan Masa Pemerintahannya

Surya Sumirat

  1. Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara I alias Pangeran Sambernyawa alias Raden Mas Said (lahir di Kraton Kartasura, 7 April 1725 – meninggal di Surakarta, 28 Desember 1795, (bertahta 1757–1795)Mangkunegara II
  2. Raden Mas Sulomo, Pangeran Surya Mataram, Pangeran Surya Mangkubumi, dan Pangeran Adipati Prangwadana. Ia adalah cucu sekaligus penerus tahta pendahulunya, Mangkunegara I. Ayahnya ialah Pangeran Arya Prabuwijaya, putra dari Mangkunegara I yang meninggal dalam usia muda, sedangkan ibunya ialah Ratu Alit, cucu dari Paku Buwono III. Pemerintahan Mangkunegara II berlangsung selama kurang-lebih 40 tahun (1796-1835).Mangkunegara III
  3. Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara III adalah raja yang ketiga di Praja Mangkunegaran. Nama kecilnya ialah Raden Mas Sarengat, sedangkan gelar-gelar lainnya adalah Pangeran Riyo dan Pangeran Arya Prabu Prangwadana. Ia adalah cucu dari Mangkunegara II yang dilahirkan oleh putrinya BRAy. Sayati, yang menikah dengan Pangeran Natakusuma. Pemerintahan Mangkunegara III berlangsung dari tahun 1835-1853.Mangkunegara IV
  4. Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara IV (KGPAA Mangkunegara IV) lahir pada tanggal 3 Maret 1811 (Senin Pahing, 8 Sapar 1738 tahun Jawa Jumakir, Windu Sancaya) dengan nama kecil Raden Mas Sudira. Ayahnya bernama KPH Adiwijaya I sementara ibunya adalah putri KGPAA Mangkunagara II bernama Raden Ajeng Sekeli. Oleh karena KPH Adiwijaya I adalah putera Raden Mas Tumenggung Kusumadiningrat yang menjadi menantu Sri Susuhunan Pakubuwono III, sedangkan R.A Sekeli adalah puteri dari KGPAA Mangkunagara II, maka secara garis keturunan R.M. Sudira silsilahnya adalah sebagai cucu dari KGPAA Mangkunagara II dan cicit dari Sri Susuhunan Pakubuwono III. Selain itu ia merupakan cicit dari K.P.A. Adiwijaya Kartasura yang terkenal dengan sebutan Pangeran seda ing lepen abu yang gugur ketika melawan kompeni Belanda. Masa pemerintahannya adalah sejak 1853 hingga wafatnya 1881.Mangkunegara V
  5. Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara V adalah penerus dinasti Mangkunegaran yang bertahta relatif singkat (1881-1896). Dari beberapa sumber tulisan Mangkunegara V disebutkan tidak memiliki putra mahkota, padahal ia memiliki putra dan putri tetapi masih remaja dan belum ada yang diangkat sebagai putra mahkota. Dari putra-putranya yang potensial menggantikan kedudukannya ada dua yakni KPH.Suryakusuma sebagai putra sulung Mangkunegara V dengan nama kecil BRM Samekto dan RMA. Suryasuparta. Kedua putra Mangkunegara V pada fakta sejarah tidak menggantikan ayahnya sebagai Mangkunegara VI karena tahta kemudian jatuh kepada adik Mangkunegara V yaitu RM.Suyitno yang menggantikan kakaknya menjadi Mangkunegara VI.Mangkunegara VI
  6. Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara VI (1896-1916) bernama kecil BRM. Suyitno atau KPA. Dayaningrat, adalah adik dari Mangkunegara V dan memerintah di Mangkunegaran sebelum kemudian digantikan oleh keponakannya, Mangkunegara VII. Lahir 1 Maret 1857, ayahnya adalah Mangkunegara IV dan ibundanya adalah RAy. Dunuk, putri dari Mangkunegara III. Mangkunegara V tidak digantikan oleh putranya langsung karena puteranya belum mencapai kematangan untuk berkuasa. Menurut KPH. Gondosuputro, tampilnya Mangkunegara VI sebagai penguasa menggantikan kakaknya adalah pesan dari ayahandanya Mangkunegara IV yang disampaikan oleh ibundanya RAy. Dunuk agar Mangkunegara V penerusnya adalah yang berasal dari Mangkunegara IV.Mangkunegara VII
  7. KGPAA. Mangkunegara VII (lahir 12 November 1885 – wafat 1944) adalah pemegang tampuk pemerintahan Mangkunegaran dari tahun 1916 – 1944. Ia adalah salah seorang putera dari Mangkunegara V. Ia menggantikan pamannya, Mangkunegara VI, yang mengundurkan diri pada 11 Januari 1916. Mangkunegara VII adalah seorang penguasa yang dianggap berpandangan modern pada jamannya. Ia berhasil meningkatkan kesejahteraan di wilayah Praja Mangkunegaran melalui usaha perkebunan (onderneming), terutama komoditas gula. Mangkunegara VII juga seorang pencinta seni dan budaya Jawa, dan terutama mendukung berkembangnya musik dan drama tradisional.Mangkunegara VIII
  8. Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara VIII (lahir di Kartasura, 7 April 1925 – meninggal di Surakarta, 2 Agustus 1987 pada umur 62 tahun, mulai berkuasa 1944) adalah penguasa Praja Mangkunegaran terakhir yang mengalami masa kolonial Belanda dan yang pertama kali pada masa Indonesia merdeka. Baru saja dilantik dan kemudian harus menghadapi arus perubahan politik yang besar, Mangkunegara VIII (bersama Pakubuwana XII) kesulitan memposisikan diri untuk menjaga kedaulatan wilayah. Akibatnya wilayah Daerah Istimewa Surakarta (termasuk Mangkunegaran) digabungkan ke dalam Provinsi Jawa Tengah sejak 1950. Perjuangan Mangkunegara VIII dalam krisis keberadaan Pura Mangkunegaran dijalaninya dengan menempuh jalan yang formal seperti ketika mempersoalkan aset-aset Mangkunegaran yang diambil alih pengelolaannya oleh pemerintah tanpa pembicaraan. Meski kemudian ternyata kalah dalam pengadilan, Mangkunegara VIII tetap menjalankan roda monarki Mangkunegaran dengan berbagai upaya dan usaha. Mangkunegara VIII dalam kancah kesenian sangat berjasa dalam menggali kembali Tari Bedaya Anglir Mendung, sebuah tarian ciptaaan Mangkunegara I yang menghilang. Pada tahun 1970 oleh Mangkunegara VIII digali kembali dan dihidupkan. Selain menggali kembali Tari Bedaya Anglir Mendung, ia juga menciptakan sebuah tarian kerakyatan yang disebut Tari Gambyong Retno Kusumo. Mangkunegara VIII wafat tahun 1987 dan digantikan oleh putra ketiganya, GPH. Sujiwakusuma, sebagai KGPAA. Mangkunegara IXKMangkunegara_IX
  9. Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara IX atau sering disebut Mangkunegara IX (Lahir 1951) adalah putra laki laki kedua dari Mangkunegara VIII. Pada masa remajanya ia bernama Pangeran Kusuma. Naiknya GPH. Sujiwakusuma ke tampuk kekuasaan Mangkunegaran membawa suasana yang menebalkan catatan-catatan para sejarahwan dan juga para kuli tinta (wartawan). Penobatan GPH. Sujiwakusuma di alam Republik Indonesia merupakan suatu penobatan yang kontroversial penuh gejolak, pertentangan, sekaligus juga romantika keluarga besar Mangkunegara I sang pendiri dinasti. Dalam keluarga besar ini tercatat pula kerabat keluarga Presiden Republik Indonesia yang pertama dan kedua. Dikatakan sebagai kontroversial karena untuk pertama kalinya dalam sejarah kerajaan kerajaan Nusantara di dalam wilayah Republik Indonesia ini, Mangkunegaran telah melakukan suatu terobosan untuk melibatkan di luar kerabat inti untuk campur tangan dalam penentuan takhta. Meski kata sepakat kemudian berpihak pada GPH. Sujiwakusuma akan tetapi penobatannya harus diterima dengan puas tanpa mengenakan keterangan penyerta angka romawi IX, sebagai KGPAA. Mangkunegara.

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Mangkunegara

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s