Caping Sebagai Cinderamata Wisata Gunung Gambar dan Hutan Wonosadi, Kenapa Tidak .. ??

Jika mendengar lagu ini, angan saya langsung menerawang jauh ke tanah kelahiran saya, lalu angan-angan ini menerawang, “jika lagu” Caping Gunung” saja mampu mendunia, kenapa CAPING produksi Kecamatan Ngawen belum mampu memberikan peningkatan taraf ekonomi yang optimal bagi masyarakatnya. Caping adalah hasil kerajinan di Kecamatan Ngawen yang sangat potensial dan memiliki nilai ekonomis yang luar biasa sebenarnya, dan hingga saat ini masih eksis dalam arti ada pengrajin yang terus memproduksi walaupun masih belum menjadi pekerjaan pokok dari masyarakat, karena mayoritas masih menjadi usaha sampingan dari warga masyarakat yang merupakan “petani musiman”, di musim hujan mereka bertani dan di musim kemarau mereka memproduksi caping, atau disela-sela kesibukan bertani mereka memproduksi caping tersebut, sehingga hasil produksinya masih cenderung seadanya, dalam satu hari jika di rata-rata belum mampu menghasilkan 5 buah caping untuk seorang pengrajin, dan ini menjadi kendala tersendiri dalam meningkatkan jumlah kemampuan produksi dan  menentukan harga jual ke pasaran. Sudah sering kali saya komunikasi dengan pembeli caping dari beberapa daerah di Jawa Timur dan Jawa Tengah, namun ketika mencoba untuk menghubungkan dengan pengrajin belum bisa menindaklanjuti keinginan dan pesanan dari pembeli tersebut, karena ketika sudah sampai pada komunikasi masalah harga tidak ada titik temu, disebabkan oleh harga jual yang terlalu tinggi.

Jika dibandingkan dengan caping produksi Mojokerto dan Ponorogo harga caping produksi dari Kecamatan images3Ngawen masih terlalu tinggi, dan hal ini menjadi salah satu penyebab produksi caping Ngawen belum mampu bersaing dari sisi harga, pembeda yang lain adalah Daerah Mojokerto dan Ponorogo pengrajin caping sudah menjadi pekerjaan pokok dan bukan sampingan, jika dari sisi kualitas sebenarnya caping produksi dari Kecamatan Ngawen jauh lebih halus dan bagus kualitasnya, akan tetapi pasar belum cukup menerima jika hanya mengandalkan kualitas baik saja, memang pasar selalu berharap harga yang terjangkau dengan kualitas yang bagus. Dan Caping Produksi Kecamatan Ngawen memiliki potensi itu, menekan biaya produksi dengan harapan harga mampu bersaing menjadi pekerjaan rumah yang harus dapat di kondisikan oleh para pengrajin, untuk dapat meraih itu semua memang di perlukan sebuah pengorbanan dalam beberapa sisi, disinilah peran pemerintah daerah sangat diperlukan untuk mengkondisikan pengrajin membina dan memberikan permodalan; akan tetapi menjadi sebuah dilema ketika pemerintah sudah turun tangan pengrajin sendiri tidak mampu memanage aktifitasnya dengan baik, dan peran pendamping pengrajin sangat di perlukan untuk menjadikan mereka sukses mencapi tujuannya. Dengan kata lain harus ada sinergi yang harmonis antara pengrajin, pemerintah daerah dan pendamping (yang memiliki visi mengembangkan potensi daerah dan untuk sementara mengesampingkan keuntungan sebagai orientasinya), jika hal ini bisa tercapai maka Caping Gunungkidul; hasil produksi dari Kecamatan Ngawen akan tetap eksis dan tidak akan mengalami kepunahan.

Jika di lihat dari kondisi masyarakat di Kecamatan Ngawen terutama penghasil Caping sedikit banyak sudah mengalami sebuah pergeseran dan orientasi berpikir, merasa bahawa dari sisi ekonomis memproduksi Caping tidak mampu mencukupi kebutuhan hidup, maka mereka sudah mulai meninggalkannya dan mencoba untuk melakukan pekerjaan yang lain dan bahkan merantau, jika hal ini terjadi maka lambat laut Caping yang merupakan salah satu ikon dan produk unggulan dari Kecamatan Ngawen akan terus berkurang dan bisa jadi PUNAH, akan menjadi sebuah kerugian tersendiri bagi masyarakat dan pemerintah daerah; ada beberapa langkah yang bisa di ambil oleh pemerintah daerah untuk menjadikan pengrajin caping ini akan terus lestari dan tentunya menjadi potensi ekonomi, yaitu:

  1. Mewajibkan sekolah-sekolah setingkat SMP dan SLTA di Kecamatan Ngawen untuk “menganyam caping” menjadi mata pelajaran muatan lokal atau paling tidak masuk dalam ekstra kurikuler.
  2. Melakukan pendidikan dan pelatihan khusus untuk kegiatan memproduksi caping ini, dari kegiatan produksi hingga pemasaran.
  3. Meningkatkan kreatifitas para pengrajin caping dengan memberikan pemahaman dan pengetahuan tentang inovasi dan kreatifitas produksi caping itu sendiri, sehingga hasil produksi tidak monoton dalam hal bentuk dan corak;

Namun jika pemerintah sudah melaksanakan hal-hal tersebut diatas, tidak akan ada artinya jika “PENGRAJIN TIDAK MEMILIKI KOMITMEN“, terhadap pengelolaan produksi caping ini. Satu hal yang mungkin belum di pikirkan dan ini bisa menjadi sebuah titik balik untuk menjadi pengrajin caping Kecamatan Ngawen bisa berkembang, bahwa Gunung Gambar sudah di bangun untuk menjadi tempat wisata, dan Wisata ke Gunung Gambar sudah pasti akan di butuhkan penutup kepala, karena akan panas dan kehujanan jika berwisata ke Gunung Gambar, apabila masyarakat khususnya pengrajin mampu memproduksi caping dengan daya beli terjangkau dan ada kreatifitas caping yang memiliki daya tarik bagi wisatawan tidak menutup kemungkinan bahwa caping menjadi “cinderamata” yang istimewa bagi Wisata Budaya Gunung Gambar.  Dan itu harus di mulai dari sekarang, sehingga ketika nanti Wisata Budaya sudah benar-benar berjalan maka kita sudah memiliki paket-paket wisata yang baik. Coba ada beberapa konsep untuk membuat inovasi Caping Kecamatan Ngawen seperti pada Gambar Berikut :

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Demikian tulisan ini, semoga mampu menggugah semangat dari masyarakat untuk tetap memproduksi caping, salam sukses dan terima kasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s