Siapakah Eyang Carik, Benarkah Salah Satu Cikal Bakal Ngawen .. ??

Muspika Ziarah Ke Makam Eyang CarikEyang Carik atau Mbah Carik, terus terang menjadi Tokoh baru dalam pemahaman saya mengenai Ngawen Gunungkidul, karena jaman kecil saya dulu hampir tidak pernah mendengar cerita tentang Tokoh ini, bahkan baru tahu beberapa tahun terakhir ini bahwa setiap tanggal 17 Agustus pada saat peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, jajajaran Pemerintah Kecamatan Ngawen di dampingi Kapolsek dan Danramil melakukan ziarah ke makam beliau sebagai rangkaian acara peringatan kemerdekaan Republik Indonesia.  Dalam hati kecil saya menggelitik satu pertanyaan, apa kontribusi beliau terhadap kemerdekaan Republik ini, atau mungkin kontribusi beliau terhadap Kapanewon Ngawen. Karena biasanya ziarah pada rangkaian peringatan 17 Agustus dilakukan di makam-makam pejuang atau para pahlawan yang memiliki riwayat dan terlibat dalam perang-perang kemerdekaan atau mungkin berkontribusi besar dan memiliki pengaruh terhadap keberadaaan suatu wilayah. Dengan adanya tradisi ber-ziarah ke makam Eyang Carik ini menjadi satu hal yang menarik bagi saya pribadi, ini tidak berarti pada konteks “setuju atau tidak setuju”, namun lebih pada ingin mengetahui dengan jelas dan pasti siapakah Tokoh ini sebenarnya, karena dengan kejelasan akan tokoh ini tentunya akan memberikan khasanah budaya yang luar biasa bagi leluhur Kecamatan Ngawen Gunungkidul tentunya. Ada beberapa cerita yang saya pernah dengar dan baca bahwa Ngawen itu merupakan sebuah Kademangan yang dipimpin oleh seorang Demang bernama Kertiboyo yang mana beliau bekerja sama dengan Mbah Gading Mas Makam Eyang Carikdan Mbah Onggolotjo dalam mengembangkan sebuah padepokan di Hutan Wonosadi. Demang Kertiboyo inilah yang menyarankan kepada pemuda-pemuda di Ngawen untuk berguru di padepokan itu dan ternyata banyak dari mereka yang akhirnya diterima menjadi panggawa di Pajang waktu itu (ini sekulumit cerita dari Alm. Bapak Sudiyo – sesepuh Desa Beji); disini tidak ada kejelasan tentang rentang waktunya yang pasti sebelum masa-masa Kerajaan Mataram terpecah menjadi Surakarta dan Yogyakarta. Dan dari masa ini ke masa Mataram terpecah saya belum menemukan ada catatan dan sumber-sumber yang bisa dijadikan pegangan untuk menarik benang merah dalam memahami Tokoh Eyang Carik ini, apakah Demang Kertiboyo adalah Eyang Carik ataukah Tokoh lainnya.

Keberadaan beliau mungkin akan jelas dan gamplang jika situs di Kampung dan situs di Watusigar dapat diteliti, namun keberadaan situs tersebut sampai saat ini sudah mulai punah dan hancur karena ulah dari warga masyarakat sekitar, namun setidaknya saya pernah mendengar masih ada sisa-sisa situs Kampung. (mudah-mudahan ada waktu untuk bisa melihat keberadaannya), amin.

Hingga ada catatan dan tulisan sejarah dari Keraton Surakarta yang menyebutkan bahwa Raden Mas Said setelah beliau mencapai usia remaja kira-kira usai 14 tahun dimana RM Said terlahir pada tahun 7 April 1725 yang berarti terjadi pada tahun 1739 beliau diangkat sebagai pegawai keraton dengan pangkat Mantri Gandek Anom dengan sebutan dan nama R.M Suryakusuma dan diberi ” Gaduhan ” ( hak pakai ) sawah di Ngawen seluasa 50 jung ( =200 bahu ). Dua orang adiknya bernama R.M Ambiya dan R.M Sabar juga diangkat menjadi Mantri Gandek Anom berturut- turut dengan gelar dan nama : R.M Martakusuma dan R.M Wiryakusuma, masing-masing diberi gaduhan tanah seluas 100 bahu.Pangkat itu setingkat dengan Penewu atau Camat (jaman sekarang) jadi pada tahun 1739 Ngawen sudah menjadi Kapanewon yang merupakan bagian dari Keraton Surakarta Hadiningrat, jika hal ini petilasan Pangeran Sambernyawa masih dapat kita lihat sampai sekarang yaitu Gunung Gambar.

2 thoughts on “Siapakah Eyang Carik, Benarkah Salah Satu Cikal Bakal Ngawen .. ??

  1. Sebagai tambahan informasi, bahwa jaman dulunya Kapanewon Ngawen masuk dalam wilayah Kawedanan Wuryantoro. Mengenai asanya situs/makam Eyang Carik ini masih ada hubungan denagn salah satu makam/petilasan Eyang Jiwo Yudo yang keberadaannya tidak jauh dari makam Eyang Carik. Kalau ingin mengetahui secara lebih rinci, barangkali bisa dicari dan diminta penjelasannya pada sesepuh dusun terdekat.

    • Pada masa-masa ini Ngawen belum menjadi bagian dari Kawedanan Wuryantoro (mungkin); karena Ngawen menjadi Kapanewon dan menjadi bagian dari Kawedanan Wuryantoro pada masa Raden Mas Said (Pangeran Sambernyawa) coba panjenengan cermati disini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s