WARNING.., Rinding Gubeng .. Akankah Tetap Lestari .. !!

img_2403Sebenarnya tulisan ini berawal dari sebuah pemikiran dan kekhawatiran terhadap sebuah kelestarian budaya yang bisa menjadi ikon Kecamatan Ngawen dan membaca dari sebuah media online klik disini. Ya .., mungkin tulisan ini akan menjadi sebuah tulisan usang, bahkan sekedar tulisan yang tidak akan ada manfaatnya hal ini karena memang perkembangan budaya dan tingkat kesukaan serta hobby masyarakat, serta terkikisnya sebuah kepedulian terhadap lingkungan, Ngawen sebagai salah satu bagian dari wilayah Kabupaten Gunungkidul memiliki banyak potensi baik dari sisi ekonomi dan seni. Dan salah satu potensi seni yang sebenarnya merupakan sebuah asset dengan nilai tinggi adalah “Rinding Gubeng”,  namun miris juga jika asset ini kurang diperhatikan dan bahkan mungkin kesulitan untuk mencari penerus dari para pemain-pemain alat musik ini. Sebenarnya kesenian Rinding Gubeng adalah sebuah kesenian dengan nilai-nilai budaya yang tinggi, dengan pesan-pesan moral yang begitu mendalam, ada nuansa kebijakan didalamnya. Dari sebuah kesederhanaan alat yang dipergunakan akan tercipta sebuah rangkaian dan paduan musik yang indah dan luar biasa.Rinding Gubeng akan tergeser secara perlahan jika tidak ada perhatian dalam pelestariannya, jika tidak ada tindakan nyata dalam usaha untuk mempertahankan agar tetap menjadi sebuah kebanggaan bagi Masyarakat Ngawen. Bahkan jika masyarakat benar-benar mampu menerima dan melestarikannya akan menjadikan “Ke-khas-an” dan menjadi ikon bagi Ngawen khusus-nya dan Gunungkidul pada umumnya, konon kesenian Rinding Gubeng ini adalah kesenian tertua yang di miliki oleh Gunungkidul, akan sangat sayang jika pudar dan menghilang oleh jaman yang kian modern dan tidak ada bentuk kepedulian dari masyarakat dan bahkan dari pemerintah setempat dalam upaya-upaya pelestariannya.  Bisa jadi kepunahan dalam pelestarian akan terjadi dan Ngawen akan kehilangan kekhasan dan ikon-nya karena Rinding Gubeng tidak ada yang bisa memainkan lagi. Tidak ada lagi sisi-sisi menariknya dalam penilaian dan kaca mata anak muda, saat ini-pun pemain-pemain Rinding Gubeng merasa kesulitan untuk mencari generasi penerusnya, hanya campur tangan pemerintah yang mungkin mampu untuk mempertahankan dan melestarikannya.  Sebenarnya akan menjadi sangat mudah ketika pemerintah benar-benar mau dan memiliki keinginan untuk tetap mempertahankan budaya adiluhung ini, MUMPUNG generasi yang bisa bercerita tentang Rinding Gubeng yang benar masih ada, karena 5 sampai 10 tahun ke depan Rinding Gubeng hanya akan menjadi mitos, cerita yang tidak lagi original, karena hanya akan di dasarkan pada literatur tanpa ada sumber dari pelaku secara langsung.  Ada beberapa langkah untuk bisa menyelamatkan ini semua :

  1. Menumbuhkan minat dan kesukaan anak-anak muda terhadap kesenian Rinding Gubeng ini, dengan membentuk group-group kesenian ini di setiap pedukuhan di Desa Beji dan bahkan bisa ke seluruh Desa yang ada di Kecamatan Ngawen (harus dan  wajib); dengan dilakukan latihan rutin serta ada dana rutin juga, bisa di masukkan ke Anggaran Belanja Desa untuk bisa di masukkan dalam APBD (ada anggota DEWAN yang TERHORMAT — seingat saya dari Desa Beji) .. akan sangat mungkin untuk bisa memperjuangkan, … HALLO SANG ANGGOTA DEWAN (bangun dan tunjukkan kerja nyatamu).
  2. Dibakukan alat-alat musik dari Rinding Gubeng ini lengkap dengan nama dan kriteria (ukuran dan karakteristiknya) dengan detail
  3. Menerbitkan buku tentang Rinding Gubeng lengkap dengan cerita dan sejarahnya;
  4. Diadakan lomba Rinding Gubeng secara rutin untuk mencari bakat-bakat dari kaum muda;
  5. Masih memungkinkan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan memasukkan menjadi muatan lokal dalam kurikulum dari tingkat sekolah dasar hingga tingkat sekolah menengah atas (tentunya di gabung dengan budaya-budaya dari kecamatan dan daerah laih di Gunungkidul);, setidaknya pihak kelurahan dan atau kecamatan Ngawen harus mengusulkan ini.
  6. Perlu tekad bersama dengan tujuan dan visi misi yang sama untuk memulai ini semua, menjauhkan dari prasangka dan pemikiran (dapat keuntungan dari ini semua).

Setidaknya jika enam hal ini bisa dilaksanakan insya allah kesenian Rinding Gubeng akan tetap lestari dan benar-benar menjadi ikon bagi Kecamatan Ngawen, apalagi jika di kaitkan dengan pembangunan Gunung Gambar menjadi daerah wisata, satu harapan semoga tulisan ini bisa menjadi awal hati kita untuk bisa menunjukkan tindakan nyata, tidak sekedar wacana dan bicara. Terima kasih

3 thoughts on “WARNING.., Rinding Gubeng .. Akankah Tetap Lestari .. !!

    • ini ada di Beji njung .. jan eman kalo tidak di lestarikan .. ini warisan budaya yang luar biasa … seingat saya ada kesenian seperti ini hanya di Ngawen .. dan wilayah Jawa Barat (ada kemiripan alat musiknya — namanya beda)

  1. Rinding tradisional dibuat dari bambu, sebaiknya bambu petung atau bisa juga dari pelepah (bongkok) aren, cara memainkannya dengan ditarik-tarik talinya (disendhal) di depan bibir pemainnya sambil menghisap udara agar timbul efek suara menggema/beresonansi di rongga mulut pemainnya. Sedangkan rinding modern dibuat dari logam (kuningan), cara memainkannya dipetik centil suara didepan mulut/bibir pemain seperti halnya pada rinding tradisional. Kalau mau belajar memainkan rinding sebaiknya jangan langsung dengan alat/rindingnya, tetapi sebaiknya berlatih dulu memonyongkan, menyewewekkan atau mecucukan bibir sambil menghirup dan menghembuskan nafasnya melalui mulut, di setiap pagi sebelum mandi dan sotre sebelum tidur. Jangan lupa berlatihnya sambil berdiri di depan kaca/cermin dan di kamar jangan sampai terlihat oleh tetangga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s