Nyadran Di Hutan Wonosadi

Ketika masih kecil dulu, hampir tak pernah terlewatkan untuk ikut acara “Nyadran”, namun sudah sekitar 15 tahun 1995 s/d 2010 tidak pernah lagi mengikuti acara “nyadran” ini, ada rasa kangen dan rindu untuk ikut berbaur berebut ayam (baca ingkung), di puncak Hutan Wonosadi.  Sebenarnya tujuan utama dari tradisi ’nyadranan’ adalah “bertujuan menjaga kelestarian hutan dan ketersediaan sumber mata air”. Mengenai riwayat Hutan Wonosadi sendiri dapat di kulik disini

“Tradisi ‘nyadaranan’ ini dilakukan setiap tahun sekali setelah musim panen sebagai ucapan terima kasih atas jasa leluhur yang telah membudidayakan hutan Wonosadi sebagai upaya menjaga ketersediaan air di sekitar hutan, ‘nyadranan’ dilaksanakan pada  Senin Legi atau Kamis Legi setelah musim panen secara turun temurun sesuai tradisi pendahulu yang pada dua hari tersebut leluhur atau nenek moyang  Ki Honggoloto melakukan pertemuan di puncak gunung hutan Wonosadi untuk mengajari warga tentang ilmu kebatinan, ilmu ekonomi dan ilmu keluhuran budi.

Upacara nyadranan dilakukan di tiga lokasi sekitar hutan Wonosadi, yakni Sendang Karangtengah, Sendang Kali Endek  secara berurutan dan terkhir dilakukan upacara di Puncak Gunung Hutan Wonosadi. Kegiatan nyadranan dilalui dengan prosesi kenduri yang diikuti oleh masyarakat sekitar dan masyarat luar daerah yang memiliki hajad tertentu atau yang telah tercapai tujuan dalam hidupnya.  Bagi warga  yang memiliki hajad dalam mengikuti upacara diwajibkan membawa makanan ’Panggang Tumpeng’ dan wadah  ’tenong’ , sedangkan untuk warga sekitar yang mengikuti tradisi upacara nyadaranan tetapi tanpa menyertakan hajadnya cukup dengan membawa ’tenong’.

’Panggang Tumpeng’  berupa  ayam jantan panggang , ’tenong’ yang berisi pisang raja setangkep (dua lapis) dan abon-abon (gantal, kemenyan, kembang wangi), dan tenong (berisi nasi tumpeng dll seperti peserta kenduri umum). Sedangkan ’tenong’ berisi tumpeng nasi putih, arak-arakan atau hasil panenan komplit, polo kependem atau hasil bumi, takir tempat jenang bakalan (takir kelapa mentah, takir gula merah, takir beras), gecok (takir isi jeroan ayam belum dimasak), jadah tumpak (jadah yang disusun bertumpuk dengan lapisan atas diberi gula dan parutan kelapa) dan wajik.

Hanya berharap semoga cara seperti ini dapat terus lestari, syukur-syukur bisa dikemas sebagai paket wisata yang menarik sehingga mampu mendatangkan wisatawan baik dalam negeri maupun manca negera, apalagi setelah beberapa waktu yang lalu hutang Wonosadi sudah ditetapkan sebagai Hutan Wisata, tentu akan lebih banyak lagi mendapatkan perhatian dari PEMDA Kab. Gunungkidul, Smoga saja amiin… !!!

Sumber : Dirangkum dari beberapa bahan bacaan dan keterangan dari warga sekitar..
<!–/ halaman berikutnya–>

2 thoughts on “Nyadran Di Hutan Wonosadi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s