Menebar Asa (benih) Di Tanah Gersang..

Tanah sudah basah walau hanya sejengkal ketika turun gerimis pertama di beberapa bulan yang lalu,  benih-benih telah ditebarkan dengan penuh ketekunan di bawah terik mentari, peluh bercucuran disela wajah-wajah tirus masyarakat kaki Gunung Gambar. Disela batu padas, batu kapur masih ada berjuta harapan benih itu akan menghasilkan biji-biji kehidupan. Potret sebuah perjuangan hidup di pelosok desa yang nun jauh dari pusat hingar bingar lampu-lampu metropolitan.

Dengan penuh harapan dan doa, palawija itu akan tumbuh subur, padi itu akan menguning, ketela pohon akan menyajikan akar-akar yang begitu besar dan kuat hingga saat panen mereka bisa menjual ke pasar desa, dengan senyum mengembang di bibir. Mungkin 20 tahun yang lalu keadaan itu bisa dipastikan, harapan yang pasti karena musim berganti dan berjalan sesuai dengan hitungan logika pemikiran orang-orang kampung, namun untuk saat ini logika mereka tidak lagi bisa menerima keadaan, logika mereka terkhianati oleh keadaan alam, terkadang ada dalam angan mereka meluncur sebuah ucap yang menyalahkan keadaan dan alam, padahal alam bisa berubah juga karena ulah manusia itu sendiri.

Benih telah ditabur, asa telah diurai, tinggal memelihara dan menunggu benih itu tumbuh, benih itu berkembang dan benih itu menghasilkan buah dan biji yang bisa menompang kehidupan, Namun sudah hampir dua bulan ini hujan tidak kunjung datang, hanya sesekali gerimis itu belum lagi deras sudah reda kembali, palawija telah mengering, daun padi sudah mulai keriting, dan daun-daun ketela sudah mulai pupus pucuk-nya, sementara tanah tidak lagi basah karena air sudah sulit untuk keluar.  Tanah sudah mulai retak-retak, masyarakat sudah mulai pesimis akan asa yang telah ditebarkan di ladang gersang-nya. Dalam benak mereka mulai berandai-andai akankan tahun ini gagal panen, akankan tahun ini tidak bisa menikmati jagung rebus, ketela rebus atau bahkan ketela bakar, karena ladang makin gersang sementara air tak kunjung datang.

Mereka ingin berteriak, mereka ingin mengadu pada kebijakan namun suara mereka jauh dipelosok, suara mereka nyaris tak terdengar karena terbentur tingginya gunung, luas-nya hamparan tanah gersang, serta kencangnya angin di musim ini, belum lagi terbentur pada tembok-tembok kebijaksanaan, mungkin hanya uluran tangan penuh kasih yang akan mampu mengembangkan lagi senyum mereka, yang akan memberikan setitik pengharapan. Hanya ada dua hal yang mampu dilaksanakan :

  1. Kebijakan dari Pemerintah baik pusat dan daerah, untuk memberikan satu jalan keluar dan solusi jangka panjang, dimana kehidupan petani didaerah ini bisa dialihkan menjadi pengrajin, usaha kecil dan pedagang melalui program-program ukm-nya;
  2. Kembali-nya para perantau sukses untuk sedikit mengangkat tanah tumpah darahnya sehingga mampu menggeliatkan ekonomi masyarakat, dengan komunitas, paguyuban dan kelompok mereka di perantauan untuk bisa memberikan gerak nyata pada daerah tidak hanya untuk komunitas dan paguyubannya saja.
  3. Pemberian bekal dan wacana pada masyarakat dengan beragam kegiatan pemberdayaan ekonomi masyarakat dengan mengelola potensi setiap daerah untuk bisa dikembangkan ke hal yang lebih real.

Tapi itu semua bisa terlaksana jika ada kebersamaan dan ada langkah nyata serta keterpaduan konsep dan pelaksanaan oleh masing-masing pihak. Semoga niat ikhlas menuju kesana bisa segera terlaksana oleh para penentu kebijakan dan rekan-rekan yang telah sukses dirantau. Amiin… sehingga masyarakat tidak lagi hanya sekedar Menebar Asa (benih) Di Tanah Gersang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s