Caping Diantara Himpitan Modernisasi

Caping adalah penutup kepala yang terbuat dari bambu, begitu teduh jika dipergunakan disaat panas dan terik mentari menyinari bumi, ketika masih kecil dulu masih ku temui masyarakat menggunakan caping ini, terutama jika ingin ke sawah, tenggalan, mencari rumput dan ke pasar.  Membuat caping diperlukan ketrampilan dalam menganyam bambu, tanpa sebuah ketrampilan dan ketekukan serta ketelitian anyaman caping tidak akan berbentuk. Dan disinilah sebuah filosofi hidup dari pengrajin caping ini terbentuk. Sebuah pribadi yang sabar dan teliti dari pengrajin-pengrajin caping ini.

Di Kecamatan Ngawen Kabupaten Gunungkidul pengrajin caping banyak ditemui di Dusun Kaliwaru Desa Kampung dan Di Dusun Bendo dan Dusun Beji Desa Beji, tiga dusun ini merupakan daerah dan tempat para pengrajin Caping di Kecamatan Ngawen. Namun kini seiring perkembangan kebutuhan masyarakat serta pangsa pasar yang makin berkembang menjadikan pengrajin caping harus bersaing dengan pabrik-pabrik topi.  Karena dari sisi fungsi antara caping dan topi sama sedangkan dari sisi harga Topi akan lebih murah di bandingkan Caping.  Modernisasi sudah barang tentu akan membawa dampak negatif pada sisi lainnya, dan pengrajin caping salah satu yang merasakan imbas-nya. Saat ini menggunakan caping sudah di cap ketinggalan jaman, tidak gaul lagi, mayoritas masyarakat lebih suka menggunakan topi. Namun bagi pengrajin caping hal ini merupakan sebuah tantangan dan kenikmatan dalam kehidupan bahwa mereka mampu dan bisa bertahan hidup dari menganyam CAPING. Caping bagi mereka tidak sekedar kerajinan yang mampu mendatangkan penghasilan, tapi bagi mereka CAPING mampu menopang kehidupan mereka, caping adalah sandaran hidup dan kepuasan jiwa.

Bambu yang mereka datangkan dari Temanggung untuk kemudian dibelah dan dibuat tipis-tipis sehingga mudah untuk dianyam dari setiap kegiatan yang mereka lakukan selalu disertai dengan harapan dan kesungguhan, ketekukan serta kesabaran. Menganyam helai-helai bambu dengan luapan cinta akan menimbulkan kepuasan batin tersendiri, dimana setelah menjadi Caping nanti akan di jual seharga Rp. 5.000 hingga Rp. 10.000, sebuah nilai yang masih sangat murah dibandingkan dengan perkembangan ekonomi saat ini.  Caping Gunungkidul terkenal akan kualitas-nya yang lebih baik dibandingkan dengan hasil kerajinan Caping dari daerah-daerah lainnya. Hal ini bisa dibuktikan dan dilihat dari tebal serta keawetan Caping itu sendiri.  Beberapa hal yang harus dipertimbangkan dan diperhatikan jika ingin Kerajinan Caping ini tetap eksis adalah adanya campur tangan pemerintah daerah dalam mengupayakan pembinaan bagi pengrajin caping. Potensi yang ada jika di manage dan dikelola dengan baik akan menjadi satu unggulan bagi daerah tersebut, tinggal bagaimana kita menyikapi dan melaksanakannya.

Disatu sisi pengrajin caping ingin tetap eksis namun disisi lain tidak bisa di pungkiri bahwa mereka makin terhimpit dan terdesak oleh modernisasi jaman. Bagi pemerintah daerah khususnya Pemerintah Kecamatan Ngawen mungkin bisa membuatkan ruang pamer untuk pengrajin caping ini bisa jadi dibuatkan bangunan di area kecamatan dan ruang pamer ini tentu dapat dipergunakan tidak hanya untuk Caping saja akan tetapi bisa untuk produk-produk dan kerajinan-kerajinan dari masyarakat di Kecamatan Ngawen, diimbangi dengan pembinaan dan perluasan pangsa pasar-nya. Dan mungkin bagi para perantau dari Ngawen hal ini menjadi satu pekerjaan rumah tersendiri untuk membantu meningkatkan dan mengembangkan ekonomi di daerah asalnya. Dengan kebersamaan seluruh komponen yang ada bukan tidak mungkin Ngawen sebuah daerah yang memiliki begitu banyak potensi namun belum mampu tampil di permukaan, akan menjadi sebuah daerah yang begitu menarik dan mampu mendatangkan investor. Semoga

30 thoughts on “Caping Diantara Himpitan Modernisasi

    • mas kok kampungku gak di lebokne neng postingan
      kampungku Tegal Rejo ( njalinan )

      seko wong cilegon

      “”Admin””
      Uppss… ya.. jalinan termasuk salah satu daerah pengrajin caping njih.. waduh.. supe mas.. he..he.h dengan komentar ini otomotis daerah jalinan Tegalrejo sudah masuk dong..

  1. betulnya tidak hanya caping lho mas. ada kap lampu dari bambu, dan peralatan rumah tangga lain dari bambu yang bentuknya bagus2. sayang kurang berkembang. waktu sy di Bendo ingin ngembangkan itu namun respon investor kurang bagus. harusnya ada keperdulian dari pemda

  2. Mertuaku lhan simbah plus lek-lek ku kabeh yen menyang sawah isih tetep gunakke caping, top tenan pemandangan sawah upomo ono sing ngenggo caping.

  3. Thk to Kaliwaru sejuta kenangan indah masa kecilku tmpt di mana aku terlahir dengan sejuta pesonamu ku pasti kan kembali ke kampung halaman ku…..TOPI CAPING TETAPLAH JAYA Amin………………………………………………………………………………………………………

    • Inilah yang masih menjadi kendala mas.. karena Kec. Ngawen sendiri masih belum memiliki ruang pamer untuk produk-produk kerajinannya, btw kalo ingin beli di setiap pasar tradisional di seluruh kecamatan ngawen ada kok

      • Hi mas or Mbak Gigis ya salam kenal , kok gigis sih nama nya ,asli cah munggur ni siapa nya asli mu Rommy bkn?

      • Salam kenal kembali… aku bukan asli munggur.. kok.. panggil mas saja dech.. kalo mbak kudu ganti kelamin dong… h.e.h.eh

      • kabare mbah Pawiro Bendo, lan mbah Wondo piye rak do isih sehat to. salamku nggo Agung lan Ferry.

      • hwalah.. mbah Pawiro Bendo.. mudah-mudaha sehat.. lha mbah Wondo semoga tetap sehat walafiat… hmmm Agung + Ferry akan sangat berterima kasih dapat salam dari panjenengan.. suwun

  4. Mas po Njenengan ngerti Agung putrane P Sukimin Bendo? Lan Njenengan ki sopo? rasa2ne aku nek kumpulan tahunan Trah Mangun Semito pernah krungu jeneng Gigis.

    • Mas mbok aku diwenehi weruh sopo2 wae sing sering on line neng Ngawen, khususe Bendo, Beji. Soale aku ngumboro neng ujung kulon tlatah jowo. muleh seth pisan. kadang kangen omah Bendo.

    • hwalah mas.. lek daerah Bendo, Beji aku yo kurang paham… je.. lha wong aku kie daerah kampung pas-se ngono Gantiwarno.. wetan smp … h.e.h.eh.e

  5. tur nuwun ya mas gigis capingku mbok kenalke ke smua pengguna blog ini….. caping kuwi nguripi ning ra marahi sugih.

    • sekedar memberikan informasi bahwa di daerah kita banyak potensi yang bisa di kembangkan mbak.. makasih kunjungannya

  6. salam kenal. saya kemarin baru KKN di Tegalrejo lho mas. iya caping memang dibuat di Tegalrejo juga. untuk pemasarannya agar investor tertarik, pernah ada gagasan untuk dibuat showroom-nya di pinggir jalan. di awal-awal mungkin akan sepi. tapi lama-kelamaan toko ini pasti akan dilirik wisatawan. apalagi dalam waktu dekat akan ada mahasiswa-mahasiswa norwegia yang akan homestay di sana

    • gagasan menarik mbak… terima kasih, sudah ikut memikirkan tanah kelahiran saya, meskipun saya kini domisili di Jawa Timur akan tetapi tidak akan hilang dari hati karena di Ngawen lha tumpah darah saya, mencoba untuk bisa memberikan sumbangsih walau hanya sebatas informasi seperti ini, terima kasih sekali lagi dan salam kenal kembali

  7. setuju,caping perlu diperhatikan memang tidak bikin sugih tapi nguripi dan otak bisa encer karena konsentrasi penuh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s