Keberadaan sebuah daerah tentu akan menyimpan cerita, akan ada sebuah asal usul tentang daerah tersebut, entah itu sebuah cerita turun menurun atau bahkan cerita yang memang sudah baku menjadi bagian dari sejarah keberadaan sebuah daerah, Ngawen adalah sebuah Kecamatan di Kabupaten Gunungkidul Daerah Istimewa Yogyakarta dan alhamdullilah saya menjadi bagian dari Kecamatan itu, karena disanalah saya lahir dan dibesarkan, namun sejarah tentang Kec. Ngawen masih menjadi tanda tangan tersendiri bagi saya, setelah sekian lama mencari literatur dan membaca berbagai buku sejarah tidak ada tertulis kisah tentang Ngawen ini. Terus terang saya bukan ahli sejarah, akan tetapi ada rasa menggelitik juga ketika ada sebuah pertanyaan kapan Ngawen berdiri, karena mungkin di dokumen kecamatan ngawen pun belum terdokumentasi secara lengkap dan gamblang tentang sejarah Ngawen itu sendiri. Tulisan ini-pun bukan sebuah kepastian, karena didasarkan dari beragam informasi, namun diharapkan mampu menjadi pondasi untuk kita bersama-sama menguak dan mencoba membuka dan memahami bersama dengan DASAR saling melengkapi satu sama lain, karena kita tidak ingin beradu argumentasi disini … tentunya kepada para sesepuh dan pinisepuh Ngawen dapat memberikan petuah dan wejangannya.
Ngawen tidak dapat dipisahkan dengan Pangeran Sambernyawa dan Pura Mangkunegaran, demikian sebaliknya, Pura Mangkunegaran (Pangeran Sambernyawa) tidak bisa dipisahkan dari Ngawen, karena dari Ngawen Pangeran Sambernyawa menjalankannya strategi-strategi perjuangannya dalam melawan Penjajah Belanda, disisi lain sebuah proses pemantapan dari sebuah tujuan perjuangan dilaksanakan dengan bertapa di Gununggambar, hanya saja untuk menyebutkan tahun berapa Ngawen berdiri dibutuhkan penelitian yang lebih mendalam lagi. Secara tahun Ngawen berdiri sebelum tahun 1813 terbukti dari sejarah berdirinya Kabupaten Gunungkidul pada tanggal 27 Mei 1831; namun itu tidak termasuk Ngawen karena Ngawen menjadi enclave (bagian) Mangkunegaran; telah tersebut sebuah daerah Ngawen, sehingga bisa dijadikan sebuah awal pemikiran bahwa Ngawen itu ada sebelum tahun 1831. (sumber http://www.gunungkidul-online.com/.
Dalam situs resmi pemerintah kabupaten Gunungkidul juga belum tertulis seara jelas kapan Ngawen berdiri, coba kulik disini http://www.gunungkidulkab.go.id/ apakah memang diakui berdirinya Ngawen sejak bergabung kembali menyatu ke pangkuan Ngayogyakarta Hadiningrat ataukah Sejak masih menjadi bagian dari Pura Mangkunegaran; betapa istimewanya Ngawen, sehingga pernah menjadi dua bagian Kerajaan di Jawa yang hingga saat ini masih eksis sebagai budaya. Ngawen menjadi bagian dari Ngayogyakarta Hadingrat terjadi pada tahun 1945 seperti yang di tuturkan oleh Warga Gunung Gambar, Iman Tiyoso (89), masih ingat bahwa pada era setelah kemerdekaan tahun 1945, warga di Kecamatan Ngawen memilih bergabung dengan DI Yogyakarta. Sebelumnya, wilayah tersebut merupakan daerah enclave yang merupakan wilayah kekuasaan Pangeran Sambernyawa. ”Kala itu ada rapat besar yang dihadiri seluruh warga. Kami memilih bergabung dengan Yogyakarta karena status kepemilikan tanah tak lagi gaduh atau hak pakai, tetapi bisa menjadi hak milik,” cerita Iman.
Namun jika kita kaitkan dengan Raden Mas Said atau Pangeran Sambernyawa bahwa beliau Raden Mas Said dilahirkan di Keraton Kartosuro pada hari minggu legi tanggal 4 Ruwah tahun Jumakir 1650 AJ, Windu Adi Wuku Ari Agung atau tanggal 7 April tahun 1725. Ayahnya bernama Kanjeng Pangeran Arya Mangkunegoro yang dibuang oleh Belanda ke Srilangka (Ceylon). Ibunya bernama R.A Wulan, puteri Pangeran Blitar. Pembuanngan kanjeng Mangkunegoro disebabkan oleh fitnah yang dikarang oleh Kanjeng Ratu dan Patih Danurejo, dua orang wali raja Pakubuwono II karena raja (masih berumur 16 tahun). Dalam fitnah itu ia dikatakan telah berzinah dengan seorang selir PB II (yakni Mas Ayu Larraseti). Pada mulanya ia dijatuhi hukuman mati, namun kemudian diubah menjadi hukuman buang. Peristiwa ini terjadi ketika putranya, R.M Said masih berumur 2 tahun.
Menjelang berumur 14 tahun, Raden Mas Said diangkat menjadi Mantri Gandek Keraton Kartasuro atas kehendak PB II, dengan nama R.M. Ng Suryo Kusumo. Untuk jabatan ini ia memperoleh tanah lungguh sebesar 50 jung. Adik-adiknya, R.. Rambia bergelar R. M. Ng. Martokusumo dan R. M. Sabar bergelar R. M. Ng Wirakusumo. Mereka mendapat tanah lungguh masing-masing seluas 25 jung. Semua tanah kakak beradik ini terletak di daerah Ngawen, Gunung Kidul. Jika kita hitung beliau lahir pada tahun 1725 setelah berumur 14 tahun berarti pada tahun 1739 beliau menjadi Mantri Gandek di wilayah Ngawen-Gunungkidull (waktu itu masih berupa hutan belantara, apakah mungkin Ngawen berdiri tahun 1739 bersamaan dengan diangkatnya Raden Mas Said menjadi Mantri Gandeg disana dan ternyata juga Gunung Gambar adalah salah satu petilasan beliah yang masih ada hingga saat ini .. ??
Tulisan ini juga saya sharing di Group Facebook Kec. Ngawen — Ngawen GK Community
Semoga tulisan awal ini bisa menjadi pijakan bagi kita untuk mencoba menggali tentang sejarah Ngawen itu sendiri … (disarikan dari berbagai sumber)

#1 by Paimin on 24/08/2011 - 10:24 pm
Sebelum menjadi bagian ( salah satu kecamatan ) Gunung Kidul ngawen adalah wilayah kabupaten Wonogiri sekiar thn 1950
#2 by gigis on 25/08/2011 - 1:02 pm
terima kasih mas.. apakah ada catatan tentang ini mas, terus menjadi bagian dari Kabupaten Wonogiri berapa tahun mas..
#3 by andi irawan on 28/09/2011 - 5:54 am
“JANGAN SEKALI-KALI MELUPAKAN SEJARAH” ucpan Bung Karno ” Bapak Proklamator/RI 1. sy pribadi n kluarga BANGGA bagian dari keturunan warga Ngawen, desa Beji Lor, dusun Beji. Saya terlahir di JAKARTA,36 th yang lalu,ortu sy ngajarkan PAkem Adat istiadat JAWA.
#4 by yoedishtira on 03/03/2012 - 9:34 am
Tidak akan lupa dengan ngawen tercinta, karena ini adalah tumbah darah saya, dan banyak kesan mendalam yang pernah terukir indah di sana …
#5 by prayit on 17/03/2012 - 4:15 am
banyak warga masyarakat ngawen yang menjadi saksi hidup dalam sidang warga ngawen termasuk Bp.Mogeni…(Alm) yang bertempat di dusun kepil mweninggal Juni 2011 tahun lalu…
Anak dan menantunya masih bisa menceritakan kejadian itu (sering di dongeng’i)…….!
#6 by gigis on 28/03/2012 - 1:25 pm
sing iso di takoni sopo yo .. pak carik .. ??